Jumat, 04 April 2014

KESUKSESANNYA ORANG SUKSES (Resume Lesson From The Top)

Selesei. Percuma kalau membaca buku bagus tapi ga di share. nah ini untuk mencegah hal kepercumaan maka ini executive summary-nya.

Ada pelajaran menarik dari buku Lesson from the top karya Neff dan Citrin (1999). Pada tahap pertama, penulis buku itu meminta kepada sekitar 500 orang (CEO dari berbagai perusahaan, LSM, dekan, dan rektor perguruan tinggi) agar menominasikan 50 nama orang yang dianggap tersukses di AS. Mereka antara lain Jack Welch (General Electric), Bill Gates (Microsoft), Andy Grove (Intel), Lou Gerstner (IBM), Michael Dell (Dell Computer), Mike Armstrong (AT&T), RIP Steve Jobs (Apple), John Chambers (Cisco System), dan Frederick Smith (Federal Express). Tahap berikutnya, penulis buku itu mewawancarai 50 orang terpilih tersebut. Selain memuat hasil wawancara, buku itu juga menampilkan satu bab simpulan yang memuat 10 kiat sukses yang menurut 50 orang tersebut paling penting. Sepuluh kiat sukses itu, kebanyakan menyebutkan pentingnya memiliki keterampilan lunak sebagai syarat sukses di dunia kerja. Mereka juga sepakat, yang paling menentukan kesuksesan bukanlah keterampilan teknis, melainkan kualitas diri yang termasuk dalam kategori soft skill atau keterampilan berhubungan dengan orang lain (people skills).

Sepuluh kiat sukses ke-50 orang sukses tersebut:
  1. Nafsu: hhh… jangan salah arti, buku ini memahami nafsu yakni sebagai unsur dalam kecerdasan emosional yang merupakan kiat sukses, yang meliputi gairah atau semangat membara.
  2. Intellegent quotient thinking (IQ): indikatornya kemampuan menghitung, menganalisis, mendesain, berwawasan, berpengetahuan luas, membuat model, dan kritis.
  3. Kemampuan berkomunikasi dalam mengembangkan/membangkitkan diri dan mengembangkan orang lain.
  4. Kesehatan dan energy tinggi, meliputi kemampuan menjaga stamina fisik dan kesehatan organ-ogan tubuh.
  5. Kecerdasan spiritual. Kecerdasan ini di USA masih menduduki urutan tinggi untuk ngedukung sukses. Kecerdasan spiritual mampu menjawab untuk apa dia hidup, mau kemana setelah hidup, dan apa yang ditargetkan setelah kehidupan ini. Orang yang mempunyai kecerdasan ini akan berusaha semaksimal mungkin, bukan justru membuat orang lain menderita.
  6. Kreatif dan inovatif.
  7. Rendah hati.
  8. Selalu bersikap positif.
  9. Hidup dalam keluarga yang harmonis.
  10. Fokus dan mengerjakan yang bener.
Kesepuluh indikator sukses itu merupakan kecerdasan holistik yang harus disiapkan. Tampaknya, nilai spiritualitas dan aspek moral tidak kalah pentingnya, yang terangkum ke dalam delapan soft skills dan dua hard skills (nomor dua dan empat). Jadi syarat yang harus dipenuhi lebih banyak unsur soft skills-nya. 


Salam,
-GJG-

Kamis, 03 April 2014

WOW LEGA


Well, for me, it does. Kemarin, tepat pukul 10.51 WIB masa sekolah pascasarjana aku uda berakhir dengan pengumuman lulusnya aku di seminar tesis. WOOHOOHOOOOOOOO!

Sebenernya tergantung sidang tesis nanti sih, ya kan uda pasti lulus, tinggal penilaian aja. See you next my future Ibu Sri Heri and the gang. Aku jadi curiga yang bikin lagu atau istilah atau prinsip "high school never ends" itu sampai sekarang belum lulus-lulus kali ya.

Anyways, buat kamu kamu dan kamu yang pada nyariin aku kemana aja selama ini (ADA KAN? PLIS BILANG SAMA AKU ADA YANG NYARIIN DAN NGANGENIN AKU!) yaah, aku kan cuma anak pemuda biasa gitu ya yang sama kayak pemuda-pemudi lainnya pada seumuran dan sekecean aku ini sibuk mempersiapkan masadepan. But that was three months ago until yesterday. Hari ini aku bebas sebebas bebasnya anak ayam yang baru netes dari cangkangnya. Maka jadilah si aku ini kembali ke habitat lamanya: depan laptop.

Sebagian besar temen-temen aku (as if i have friends) terkena sindrom gue-mau-cepet-cepet-mapan-tapi-ga-mau-cepet-cepet-nikah-dan-ga-mau-meninggalkan-masa-indah-masamuda yang ternyata sangat contagious. Tapi saking kebal dan tangguhnya aku, aku sih kenanya ga jauh-jauh dari flu atau batuk pilek dan males.

Bersyukurlah kalian yang, kalo bahasa kerennya, "have something that makes goodbye so hard'. Karena mungkin alasan aku ga terkena sindrom aku-mau-cepet-... adalah ya I didn't have that something. Rasanya beda aja sama masa-masa S1 aku yang bisa bikin aku betingkah abis-abisan tiap ingetinnya. Mungkin karena kawan-kawan S1 aku itu udah bareng sama aku mulai dari garap praktikum, pengamatan ke lapangan, dan ngadain event-event bareng kali ya, sementara kawan S2 kan baru kenal kemaren. Aku juga belum berasa ninggalin S2 aku. Bahkan rasanya aku belum ngerasain masa-masa S2. Not that Magister Teknik Geologi is not a good school. Cuma memang aku meninggalkan S2 aku ini dengan sejuta penyesalan akan hal-hal yang BELUM aku lakuin selama aku sekolah.

Aku nyesel yang teramat sangat karena sampai jam 1 hari ini, reputasi tulisan ilmiahku selama sekolah di pascasarjana masih sangat bersih. Bahkan sebenernya dari S1 pun aku ga pernah bener-bener menulis ilmiah. Pernah nulis dan masuk jurnal juga gara-gara formalitas dari salah satu syarat apa gitu. Ga kece banget kan masa nulis ilmiah bukan dari niatan, terus jurnalnya bukan jurnal internasional lagi. Apa aku terlalu aktif di dunia masa mudaku ya? Jadi aku ga punya bahan untuk aku tulis. Ah itu hanya alasan, kan aku punya beberapa data selama kerja-kerja lapangan di Sumatera, Sulawesi, NTT, nah apalagi Kaltim kan. Oh, mungkin aja aku terlalu fokus dengan portal pribadi (blog) ini ya? Jadi untuk nulis yang bersifat saintis agak dan sangat males. Atau mungkin waktuku terlalu sibuk untuk melayani asmara? Seriously I'm into that kind of things. For real. Okesip yang terakhir ini abaikan saja ya, tks.

Tapi se-nggak suka apapun aku sama postgraduate program school life aku, aku tetep bersyukur aku uda ngelewatin masa-masa susah bin sulit yang mengharuskan aku untuk belajar tiap hari, seneng dan puas dengan hasil seminar kemarin, dipuji-dimarahin-dipuji-sampe dimarahin lagi sama dosen pembimbing karena uda capek ngajarin dan aku tetep ga ngerti-ngerti (kadang), harus bimbingan di rumah dosen di hari-hari libur ataupun weekend buat tambahan, sampe akhirnya nyelesain semuanya dengan selesainya Seminar Tesis ini. Masih berasa banget mesem-mesemnya, cemberutnya, deg-degannya... At least I have that something, yang ga semua orang  pernah ngerasain dalam hidupnya. And I'm proud to once be a candidate master engineer. Cheers.


Salam dari atas awan,
-GJG-

Kamis, 20 Maret 2014

IMMATURE MAN

Hey! Lama sekali ya rasanya kita tak berjumpa. Ihik. Maaf ya, kesannya aku semacem sibuk banget sampai ga sempet nulis blog lagi. Sebenernya ga kok, aku masih sering banget bosen. Masih sering banget guling-gulingan di kasur. Masih sering banget bengong ngeliatin langit-langit kamar yang menguning akibat hujan yang brutal. Masih sering banget menatap layar handphone selama bermenit-menit dengan medsos (Twitter dan Path) and their begajulan attitude too. Jangan tanya arti begajulan apa karena only heaven knows. Intinya adalah not good; bad; ngetawain yang diketawain; tukang mengumpat; *insert more bad behaviour here*. Kadang juga membalas iMess (yang bukan dari provider tentunya!) yang masuk. Masih sering baca-baca tembok di kamar, cuma buat tau isinya apa walaupun tau persis pamflet, bahkan sampe expiry date masing-masing event-nya.

Rasanya banyak yang mau ditulisin. Banyak banget pikiran-pikiran yang mondar-mandir selama aku menatap langit-langit kamar. Ada aja gitu yang lewat-lewat selama aku guling-gulingan dan rasanya pengen banget aku share di blog ini. Tentang kehidupan, keadaan sosial, dan hmmm...bahkan rindu! Iya, rindu. Tentu saja hasil observasi dong, sekalian pembelajaran buat bla bla bla gitu nantinya. Hhh... Mungkin ini hikmahnya... (emot senyum). *iye-iye gw tau ini emang lagi menghibur diri sendiri!

Damn, 7 tahun di kamar ini dan 10 tahun di Yk. Selama aku tinggal di Yk, ngerasain susahnya ngurusin (emang aku gemuk? kok pen kurus) hidup sendiri aku jadi banyak mengamati juga keadaan di sekitarku. Ga berani bilang aku jadi lebih peduli sih. Karena ya seperti yang telah aku cantumkan sebelumnya, aku cuman "mengamati" bukan "terjun langsung dan mengubah segalanya". Macem betmen supermen aja. Banyak banget yang aku rasain bisa dijadiin pembelajaran buat hidupku. Dan alangkah indahnya kalo bisa aku share itu semua di sini.

Oke, ini bonus karena aku udah kelamaan ga nulis! Kalo yang satu ini aku ngerasa harus pake banget kuadrat di share!

Jadi begini, aku itu ada tugas akhir yang namanya Tesis. Percaya sama aku (dan sama Tuhan), ini tugas ter-ngebosenin dengan waktu pengerjaan terbanyak. And you guys wouldn't wanna hear deskripsi detil aku tentang tugas aku ini. Inti dari tugas ini adalah mempelajari geometri lapisan batubara di Antiklinorium Samarinda dan tentunya sangat menganalisis kejadian/fenomena dengan proses geologi. See? Membaca deskripsinya saja aku sudah mual-mual. Perlu diketahui bahwa sistem berpikirnya adalah discussion-centered analysis yang membuat aku semakin ga mengerti apa-apa dan terlalu malas untuk mengerti apa-apa.

Well, anyway, paragraf ini mau ga mau akan sedikit membosankan tapi bear a bit! Janji deh paragraf selanjutnya ga bakalan (kalah) bosen. Di tugas akhir (singkat jadi TA aja shall we?) ini salah satu materinya adalah geomteri lapisan batubara mencakup kemiringan, tebal, pola sebaran, dan kemenerusan lapisan batubara menurut Jeremic yang disempurnakan oleh Kuncoro (cmiiw). Teori ini melihat kepribadian kita dari aspek-aspek mikro, meso, exo, dan makro. Jadi si Jeremic dan Kuncoro ini percaya kalo kepribadian kita itu pasti ada sangkut pautnya dengan orang-orang di sekitar kita, dan interaksi antara orang-orang di sekitar kita. Ah, aku sudah mulai ngelantur nih. Kalo mau tau lebih lanjut, tanya langsung ke aku aja ya! Atau search di google barangkali, biar lebih cepet gitu.

Singkat cerita, aku, Join, Stev. dan GJG di bab analisis ini (Bab 6) akan membahas pengaruh variasi tebal di setiap coal bearing formation yang ada di Antiklinorium Samarinda. Bahas rangkaian fenomena (itu sudah selesai) dan faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap perbedaan tebal. Bahasan analisis yang kelihatannya mudah, iya karena mindset-nya di kontrol oleh burial sediment, tapi sangat sulit bagiku yang pikun dan tidak memiliki kemampuan intrapersonal yang baik. Jujur aku sih lebih milih disuruh membahas skateboard deh tentang apaaaaa gitu! Kayak tugas kliping-kliping jaman SD gitu lho. Tapi toh ya harus digarap juga. Tiba-tiba udah hari Jumat aja nih. Saatnya besok bimbingan! Aku berceloteh tentang apa yang membuat aku jadi aku yang sekarang ini. Klasik. Anak terakhir, lalu ga punya adik, lalu berteman, lalu mengenal punk dan skateboard dan voila! Jadilah aku yang mental Inul bodi Inem ini. Tentu saja bukan Inem si pelayan seksi ya. Ini Inem versi ga seksinya gitu deh... *yaiyalah kan aku cowok garang, asiiiik* 

Saat kapan tau itu aku mikir... aku uda jadi beda banget ya. Postingan-ku yang ini kayaknya bukan aku banget! Dan sejak aku masuk MTG rasanya artikelku udah beda aja gitu. Rasanya sedikit lebih "berisi"? Padahal sebenernya aku buat blog ya pas di MTG, ga jelas kan emang aku ini. Yasudahlah diemin aja tapi tetap dibaca ya. Aku ngerasanya akhir-akhir ini aku jadi lebih "mikir" aja gitu. Ih tapi aku kangen sama kawan-kawan jaman baheula. Jaman-jamannya masih gak ngotak dan isinya cuman tentang kejadian-kejadian aneh bin ajaib dalam kehidupanku. Karena kehidupanku di MTG ini emang sebenernya ga kalah absurd sama jaman-jaman sebelumnya. Malah pergaulanku jadi lebih ancur dengan bapak-ibu rekan sejawat di MTG! Hmm maksudnya bukan hancur yang dugem-dugem gituloh. Gak kuat juga aku kalau disuruh dugem. Musiknya itu keras banget jedam-jedumnya! Oke balik, FOKUS. Jadi niatan awal aku buat jadi lebih wibawa dan tampil elegan itu hancur berantakan ya saudara-saudara. Berkeping-keping hancurnya kayak kenangan aku gitu deh. Hhh...*ketawain aja aku teruuuus. Karena kawan-kawan sepermainan aku yang absurd semuanya tanpa terkecuali. Sepertinya kami-kami ini anggota berobat jalan yang bergabung menjadi satu. Hiks! So at last, welcome back dear me?


Cheers, nulis di kontrakan Ganesha,
-GJG-

Rabu, 05 Maret 2014

BACA KALAU BERANI

Obrolan malam nan centil dengan Spion (pemuda urakan asal Rawa Jembut, Bekasi), mengenai EYD Ejaan Yang Dihangatkan. Konon nama Spion bermakna "spy" adalah mata-mata dan "on" artinya aktif, secara harafiah Spion merupakan mata-mata aktif yang selalu mengusung rasa kesetiakawanan hal paling utama. Tks playlist gawat dari NOFX, Nirvana, dan Greenday yang menggantikan arti malam untuk kami tetap berdiskusi.
An affair to remember dude!

Screenshot wujud diskusi, melalui media WhatsApp. 6 Maret 2014.

Cheers,
-GJG-

KARAKTER PUNKROCKERS

Punkrockers sejati mau mendengarkan curhatnya kawan yang baru putus cinta, meski dia sendiri kelimpungan karena baru saja mutusin pacarnya. Dengan kata lain, punkrockers tuh mau menghibur kawannya yang hancur karena baru putus cinta, meski dia sendiri sebenarnya juga pesimis karena baru mutusin pacarnya yang bukan cintanya. Bukan punkrockers namanya kalau dicurhati malah balik curhat, “Ngehe, aku juga baru putus nih! Kamu malah curhat ke aku.”

Punkrockers selalu beranggapan kalau yang lebih luas dari air hujan adalah sela-selanya, maka jangan kamu ga berkutik menghadapi derasnya aturan hidup.

Punkrockers ga hanya mikir atas dasar “biasanya” (empiris) tapi juga “boleh jadi” (rasional).

Punkrockers bukan orang yang selalu memperhatikan hal besar-besar dan sudah tenar. Hal kecil-kecil juga menarik perhatiannya untuk diangkat dalam perspektif luas. Itulah punkrockers dengan tipikal yang pembangun bukan penikmat, punkrockers akan menikmati hasil yang dibangun karena akan menerima royalti.

Punkrockers tuh manggil orang dengan: “Kamu, Lu, Koe, Cok, Ente, dan lain lain.” Tapi ga “Anda”. Aku sedih banget kalau dipanggil “Anda”. Ga asyik, berjarak, ga personal, ga ada touch.

Punkrockers tuh orang yang ga bisa mengumpat dengan nama-nama alam. Karena semuanya baik. “Anjing” tuh setia dan hargai territorial.

Punkrockers juga ga bisa ngumpat dengan “Babi”. Karena babi tuh kompas atau navigator kuno untuk para pelaut. Mereka yakin bahwa di kapal babi selalu cenderung menghadap ke arah daratan. Uda aku buktikan waktu pulang kampong nyeberang lautan, kan aku anak pulau.

Dunia punkrockers ga kenal kata “Bencana Alam”. Itu “Sabda Alam”. Gimana bisa disebut bencana? Lha wong tsunami, gempabumi, banjir, dan gunung meletus itu cuma cara alam mencaru keseimbangannya baru sesuai hukum alam itu sendiri alias sabda alam.
Terkait hujan abu yang menimpa Yk gegara letusan Gunungapi Kelud, “Harusnya kita mikir justru Yogyakarta itu kebagian rejeki, dikasih peringatan simple untuk mengingat pencipta dan bersyukur. Makanya di video itu (aerial video) aku ga mau sedih-sedihan. That’s the point, ga perlu mengasihani Yk, karena kami senang bisa berbagi rasa duka dengan saudara-saudara di Kelud” ujar Erix, frontman band punk Endank Soekamti, yang saya kutip melalui Surat Kabar Harian Merdeka.

Yang jelas, punkrockers ga mau makai ceng-cengan “ke laut aja!!!” Karena kita sebenarnya negara kelautan dan mulai harus kembali menjunjung kemuliaan laut.

Punkrockers itu urakan dan ngawur, tapi mendalam karena ga punya dasar. Tapi dengan semua itu semoga aku dan kalian punkrockers sanggup menghalau kebencian walau untuk itu kita harus jatuh bangun dan tertatih-tatih.

Punkrockers jangan dangkal. Maksudku: bukan hanya karena kekasihmu maka kamu selalu ngomongin Kitab Suci, tapi juga karena senyumnya dan lain-lainnya mengingatkanmu pada rahasia Tuhan.

Kalau gemar simpati, gampang. Bela dan dukung perempuan sesuai pendapat umum, apalagi di dalam era pengkultusan perempuan bagai sekarang. Maka punkrockers harus tetap waspada. Boleh suka dayang-dayang di kepolisian tapi jangan lupa bahwa persoalan polisi cukup banyak. Jangan terkecoh pola kehumasan polri yang mengedepankan briptu-briptu polwan.

Menurut punkrockers, satu-satunya foto pahlawan yang tersenyum cuma Bung Hatta. Masihkah kau sebut bangsa ini ramah tamah?

Bagi punkrockers, marah dan benci sudah diceburkan ke dalam samudera cinta. Cinta tuh perasaan yang paling semesta. Sehingga begitu punkrockers menjalin hubungan maka akan berlangsung dengan durasi yang sangat lama. Aku ga menyebutnya kekal, karena ga ada yang kekal ada saatnya nanti terpisah untuk menuju kehidupan yang kekal (akhirat).

Punkrockers tetaplah rendah hati. Menang lebih susah ketimbang kalah. Salah langkah dikit aja pemenang bisa sombong.

Punkrockers ga menghina gigolo dan pelacur. Siapa tahu mereka lebih terhormat ketimbang kita di mata Tuhan.

Punkrockers adalah orang yang terutama menertawai diri sendiri. Kelihatannya sedang nertawain DPR tapi sebenarnya sedang nertawain diri kita sendiri. Kenapa kok milih DPR sepert itu?


Cheers,
-GJG-

Kamis, 27 Februari 2014

MEMECAH KENAKALAN

Ada sesuasu (baca: sesuatu) yang layak diterima dari suasu kenakalan:
  1. Kenyataan pahit.
  2. Pengalaman buruk.
  3. Kawan seper-nakal-an. Si kawan-kawan ini ga pernah "gigit", bahkan mereka terus mendukung. Mendukung untuk lebih nakal tentunya. Hhh...
  4. Kita-kita yang nakal ini ga pernah ngeluh. Kalaupun uda sadar/waras, malahan bersyukur. Syukurlah aku ga nakal lagi.
  5. Bersyukur itu upgrade, kalo ngeluh itu downgrade *KataDadi.
  6. Bersyukur pernah nakal, karena upgrade dari nakal ke anak baik.
  7. Kan katanya hidup itu kayak bumi meenn, berputar pada porosnya. Kadang di bawah, bisa jadi tar ngerangkak ke atas.
  8. Anak baik, sholehah, bisa jadi cikal bakal nakal. Kawanku dr seminari malahan jd tokoh masyarakat (dibaca: preman) daerah Badran, Yk.
  9. Ngerasain poin 1, 2, dan 3 itu berat coy. Bapakku pernah bilang kalo di awal berat itu yang jadiin kalian kuat untuk ngadepin hal mudah didepan.
  10. Berulang kali aku sering bilang, JUSTRU YANG MEMBAHAYAKAN ITU TERLAMBAT NAKAL.
  11. "Sudah nikmati aja semua keadaan diri di sini, karena harmoni ini kan selalu berputar." ~ Noin Bullet.
Repost dari tweet-ku.


Cheers,
-GJG-

Rabu, 26 Februari 2014

LAWAN BUDAYA KORUPSI

Yang diperangi sebenarnya bukan koruptor tapi budaya korupsi. Esensi dari kalimat ini sangat jelas ketika kita membasmi suatu hama tanaman, dimana jika terus kita menggunakan pestisida. Maka dampak jangka panjangnya adalah perusakan lingkungan karena jenuh kimiawi dan tambah kebalnya serangga-serangga itu karena tiap serangga mempunyai sistem kekebalan tubuh yang pintar dan terus update. (Info dari mahasiswa Instiper satu kosan).

Begitupun dengan para koruptor yang sedang ramai-ramainya ditangkap saat ini (Sutan Bhatoegana lagi disidang). Efouria kebebasan dan penegakan hukum yang bagus. Sehingga menjadi shock theraphy buat calon-calon koruptor yang laen, tapi tidak menyentuh brain maker dari korupsi sendiri yaitu budaya korupsi.

Karena ada satu paradox argument yang aku sampaikan berkaitan judul diatas bahwa, langkah tersebut musti dibarengi dengan pemberdayaan sistem dan recovery system sehingga akan timbul semacam kesadaraan dalam tiap sosio culture ditingkat masyarakat. Artinya tercipta suatu kesadaran dan paradigma bahwa korupsi itu memalukan.


Aku rasa kesadaran individu itu lebih penting ketimbang kesadaran kolektif atas hukum yang berlaku. Contoh orang akan takut korupsi karena akan dijerat pasal ini, pasal itu bla bla bla. Artinya hukum dibuat untuk menakut-nakuti. Tapi tidak menyentuh esensi dari stimulan budaya korupsi tersebut. Yu kno that? Biarpun puluhan koruptor ditangkap, selama budaya korupsi masih mengakar dalam masyarakat kita. Upaya tersebut akan sia-sia. Karena tidak adanya budaya malu itu tadi.

Oke lagi-lagi masyarakat, yah karena secara tidak sadar masyarakat punya andil besar dalam menyuburkan budaya korupsi itu tadi. Contohnya sangat banyak dan budaya-budaya ini sudah menjadi trend dan rahasia umum.

  1. Teriak basmi para koruptor? tapi kita sering telat masuk kerja.
  2. Teriak basmi koruptor? pungli ada dimana-mana.
  3. Teriak basmi koruptor? jadi PNS harus bayar sekian (eh korupsi atau kolusi ya).
  4. Teriak basmi koruptor? eh malah sibuk ngerumpiin make up nya si Hariati (nama lawasan versi Spyon).
Kesempatan menjadi kaya dengan cara instan dan adanya peluang senjata makan tuan, biar sejuta peluru di muntahkan tetap saja berbalik dan menyerang kita. Ini realita karena kita sering menutup mata dengan hal-hal seperti ini. Mulailah dari diri sendiri. Hal basi tapi punya nilai luhur yang tinggi demi kemajuan bersama.

Kenyataan yang lain juga diperparah dengan perilaku sebagian dari figur masyarakat kita seperti pejabat dan anggota DPR. Karena sudah seharusnya mereka memberikan contoh yang tauladan, eh ini malah memberi contoh yang buruk.
Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Peribahasa yang tepat.
Permasalahan perkorupsian di Indonesia ini sebenarnya merupakan fenomena gunung es dimana sudah belibetnya implikasi dari budaya korupsi itu sehingga untuk memberantasnya bukan cuma memenjarakan satu-dua orang tapi bagaimana membudayakan dan menanamkan semangat ke generasi berikutnya untuk anti korupsi di segala bidang. Heroik emang,  tapi ini merupakan revolusi juga solusi untuk memerangi budaya korupsi tersebut.

Tulisan ini di dedikasikan untuk menyambut pecahnya kebingunganku terhadap studiku. Merdeka!!!


Cheers,
-GJG-