Rabu, 05 Agustus 2015

KELAS PEKERJA

Jamie: "Wanita harus bekerja."

Cassie: "Oh ya? Kenapa?"

Jamie: "Supaya punya knowledge yang setara dengan (calon) suaminya, knowledge maintains communication. Wanita pekerja akan punya banyak stuff to do. Wanita akan pintar dan memahami perkembangan dunia. You know, manusia harus tetap berfikir supaya berkembang.

Cassie: "Ya, dia juga bisa membantu secara finansial."

Jamie: "No, saya cuma mau dia punya kegiatan dan develop her thoughts. Sebagai pria, it's my responsibility untuk menghidupi (calon) istri bahkan anak-anak (nantinya). Dia, istriku, boleh pakai uang dia untuk apapun dan itu bukan sama sekali urusan saya. Tapi berapa yang dia butuhkan (untuk rumah tangga) itu jadi urusan saya untuk saya penuhi. Saya cuma minta dia bekerja untuk knowledge, that's it."

Hopefully my future plans have same thing about this.


Cheers,
-GJG-

Sabtu, 04 Juli 2015

LIFE IS MEANT FOR LIVING!

Kehidupan seringkali disalahkaprahkan dengan "persiapan menjalani kehidupan".
Sebagian besar manusia tergesa-gesa mengejar "kesuksesan" tanpa merasakan kehidupan itu sendiri.
1) Pelajar ga sabar menempuh jenjang kuliah.
2) Mahasiswa ga sabar pengen kerja dan dapet gaji pertama.
3) Karyawan ga sabar pengen naik jabatan.
4) Pegawai ga sabar pengen jd manajer dengan gaji lebih besar.
5) Dan..
6) Bos ga sabar menjadi lebih berkuasa dan punya uang lebih berlimpah.
Sounds familiar?

The process to get there is more valuable than actually reaching the destination.

Hari ini adalah besok yg dikhawatirkan kemarin.
Saat berlomba mencapai tujuan-tujuan "kesuksesan", pernah terpikir apa yg akan dirasakan saat tujuan tersebut tercapai?

Ingat: yang "dirasakan" bukan yang dilakukan.

Jd manajer akan penat dengan analisa data, dan wajib mempertanggungjawabkan data yg diolah, dan siap menjadi garda terdepan dalam operational cost. Kalo sudah siap menerima tanggungjawab seperti itu? Silahkan terima gaji yang lebih besar.

Apakah juga pernah bertanya makna tujuan-tujuan tersebut bagi diri sendiri?
Kenapa persiapan masa depan harus menghalangi kita menikmati hari ini?

Master of the future and guardian of the past.
Kawan SMA saya Leo Andrean, meniti kehidupan dengan berani sekaligus berserah diri. Sebagai seorang punkrockers yang tertimpa kebutaan temporary (selama 3,5 tahun). Leo berujar bahwa bukan kesembuhan yang memberikan makna terbesar, namun perjalanan sejak sakit, sembuh, hingga hari ini. Keyakinan yang sama juga dipegangnya saat harus ditinggal kekasih tercintanya, sahabat saya Veronica Sari. Leo telah berhasil memaknai masa lalu, menatap masa depan, dan menikmati hari ini. Bagaimana dengan kita?

"Accept the fact that we are all works in progress." ~Bapakku sendiri.

Dalam hal mensyukuri (sekaligus menikmati) hidup, saya belajar banyak dari bapak saya, C. Mintariadji, BA. Ketidaktahuan, ketidakpahaman, dan ketidakmampuan bukan alasan keputusasaan. Bagi si babe, untuk TAHU, PAHAM, dan MAMPU bukanlah tujuan, namun sekedar bagian dari work-in-progress bernama kehidupan.

Sebelum berpikir njelimet soal definisi sukses dan segala bentuk lambang kesuksesan pastikan kita memahami MAKNA atas segala hal yang kita pikir kita inginkan.

God simply ask us to be the best version of ourselves.


Cheers,
-GJG-

Kamis, 14 Mei 2015

DiaLoGue KEHILANGAN

Si Ahmad makan bubur.
Selamat berlibur.

Mari bercinta eh bercerita lagi.

πŸ‘¨ “Tahu apa kau tentang kehilangan?”
πŸ‘© “Sesuatu yang datang, lalu pergi tanpa permisi.”
πŸ‘¨ “Hanya itu?”
πŸ‘© “Hmm? kesunyian dan kehampaan.”
πŸ‘¨ “Hanya itu?”
πŸ‘© “Sepinya perasaan saat ia yang dulu terengkuh, kini berpaling semakin jauh.”

Wuanjeeeng! Nafas dulu. Geli bacanya. Kalo uda selow, lanjut..

πŸ‘¨ “Ah, bukan kehilangan itu yang kumaksud.”
πŸ‘© “Lalu apa?”
πŸ‘¨ ”Kau ini bagaimana, aku yang bertanya. menurutmu kehilangan itu apa?”
πŸ‘© “Aku sudah menjawab, tapi kamu selalu menyanggah. Apa maksudmu?”
πŸ‘¨ “Maksudku, kenapa saat aku bertanya tentang kehilangan, kau merujuk itu pada cinta? Tak adakah kehilangan yang lebih besar dari cinta?”

Wuiiiissshh.

πŸ‘© “Aku tak mengerti arah pembicaraanmu.”
πŸ‘¨ “Baik, biar aku menanyakan hal yang lain. Pernahkah kau merasa kehilangan?”
πŸ‘© “Pernah, mungkin sering.”

Hhh...

πŸ‘¨ “Kehilangan seperti apa yang pernah kau rasakan?”
πŸ‘© “Suatu masa ketika aku tangguh bertahan, sementara ia begitu tanggung meninggalkan.”
πŸ‘¨ “Apa kubilang. Kenapa kau selalu mengaitkan kehilangan dengan cinta? Padahal seharusnya kau lebih bisa mencemaskan kehilangan yang lain.”
πŸ‘© “Aku tak mengerti. Bagiku, tak ada yang lebih perih selain pada saat kehilangan ketika kau sudah begitu dalam merasakan sayang.”
πŸ‘¨ “Hahaha”
πŸ‘© “Kenapa kau tertawa? Ada yang lucu?”
πŸ‘¨ “Oh, tidak. Aku hanya heran. Kenapa setiap pertanyaanku selalu cinta yang menjadi ujung jawabannya?”
πŸ‘© “Aku tak mengerti. Memangnya ada kehilangan yang lebih besar dari kehilangan cinta?”
πŸ‘¨ “Tentu saja.”
πŸ‘© “Tolong jelaskan!”
πŸ‘¨ “Sabar. Jangan marah.”
πŸ‘© “Kau membuatku jengkel. Kau yang bertanya, kau pula yang menyanggah. Ingin membodohiku?”
πŸ‘¨ “Hahaha. Tidak. Sabar. Jangan dulu mengomel.”
πŸ‘© “Jelaskanlah! Kehilangan apa yang lebih besar dari kehilangan seseorang yang dicintai? Bukankah kehilangan selalu berkaitan dengan cinta?”

Wuanjeeeng [2].

πŸ‘¨ “Memang, tidak salah. Tapi belum tentu benar. Tidak selamanya kehilangan itu selalu berkaitan dengan cinta.”
πŸ‘© “Lalu apa?”
πŸ‘¨ “Kehilangan yang lebih besar dari kehilangan seseorang yang kau cintai adalah kehilangan perasaan-kehilangan itu sendiri.”
πŸ‘© “HHM?”
πŸ‘¨ “Ya betul. Kehilangan terbesarmu adalah ketika kau tidak lagi peduli pada rasa kehilanganmu. Kau terus saja melangkah tanpa tahu arah.”
πŸ‘© “Hm?"
πŸ‘¨ “Terlalu banyak waktu yang kau habiskan. Sudah terlalu sering kau kehilangan momen-momen membahagiakan. Lalu kau tak memedulikannya.”
πŸ‘© ”Contohnya?”
πŸ‘¨ “Saat kau berkumpul bersama sahabat, keluarga, bahkan kekasihmu sendiri, apakah kau peduli pada waktu yang kau buang percuma kau buang waktu percuma dengan bermain ponsel pintar padahal ada seseorang yang spesial di hadapanmu. Kau telah kehilangan perasaan untuk merasakan kehilangan. Ketidakpedulianmu pada hilangnya perasaan kehilangan dan kenangan akan mematikanmu.”

Naaah, ntaap anedh!

πŸ‘© “Ya. Lalu bagaimana agar aku tak kehilangan atas perasaan-kehilanganku sendiri?”
πŸ‘¨ “Mudah saja.”
πŸ‘© “Hhm. bagaimana?”
πŸ‘¨ “Tak ada yang mati dari ingatan, sebagaimana abadinya sebuah kenangan.”
πŸ‘© “Hhm... ya. lalu?”
πŸ‘¨ “Seberapa penting sebuah keberadaan untukmu?”
πŸ‘© “Penting sekali. Termasuk sebagai hal yang selalu aku perjuangkan.”

Ciye, pejuang dong?

πŸ‘¨ “Kalau begitu, kenapa kita kerap membiarkannya berlalu begitu saja?”
πŸ‘© “Kau ini bagaimana sih, aku bertanya bagaimana cara agar tak kehilangan perasaan-kehilangan tapi kau malah menjawab dengan bertanya balik.”
πŸ‘¨ “Karena pertanyaan itu yang semestinya kau cemaskan. Menjaga perasaan takut kehilangan untuk tetap ada, sama pentingnya dengan keberadaan.”

LaluπŸ‘¨dan πŸ‘© bercocok tanam!

Oke, sekian dulu postingan kali ini. Nanti kita ketemu lagi di postingan-ga-tau-kapan-dibikin-lagi.
See you! 😘
Peace, love, and gaul. Anjing!

Talent:
πŸ‘¨: Pria yang hendak berkumis klimis, tapi malah amburadul disebabkan tidak "ngeh"-nya pasangan hidupnya untuk merapikan kumis panglima/pangerannya.
πŸ‘©: Wanita yang memiliki hobi unik yaitu jogedh-jogedh ditempat, wanita ini juga bergincu merah layaknya Taylor Swift dalam video Style.

Ga muncul kan emot-nya? Hhh... Kesian.


Cheers,
-GJG-

Senin, 30 Maret 2015

DITULIS AJA KALI

Rasanya udah lama banget. Nulis bebas tanpa keteraturan. Menuangkan segala kata yang ada di dalam pikiran tanpa perlu pusing-pusing memikirkan rima, diksi, dan segala tetek bengek lainnya agar tulisan terlihat indah. Kadang kala, keteraturan lebih mudah membuat kejenuhan, keseragaman kata yang mungkin itu-itu saja cenderung membuat bosan, jengah, dan menimbulkan efek "Apaan sih? Itu mulu yang dibahas". Justru malah sebaliknya, ada beberapa hal yang akan lebih terlihat keindahannya dalam bentuk kebebasan tanpa keteraturan. Rona pelangi, aurora, dan lain sebagainya.

Apapun itu. Buat aku, nulis mah ya nulis aja. Tulis saja semua kata yang dikehendaki hati dan pikiran untuk dituangkan. Menulislah karena menulis itu menyenangkan. Hal itu juga yang kerap membuat aku belajar untuk terus nulis. Biarin aja orang bilang apaan terkait penilaian mereka tentang tulisan yang aku buat. Telen aja buledh-buledh. Lha mereka aja bisa nilai kan karena baca dulu. Jadi ya terima saja. Masih mending mereka mau baca. Hhh...

Waktu nulis tulisan ini, hujan belum berhenti sejak seharian. Pelataran rumah uda jelek dan kotor banget kena tempias sama daun-daun jatuh yang kebawa angin. Jadi kepikiran bisa berubah jadi sapu sama payung. Biar kalau hujan masih bisa bersihin rumah tanpa kebasahan.

Hujan itu ikhlas banget ya? Terus menerus turun. Lalu tiba-tiba berhenti. Entah esok, lusa, atau lain waktu bakal datang lagi. Ga peduli dianggap membawa sejuknya hari atau dicap sebagai perusak momen-momen kebahagiaan hati. Ikhlas datang. Ikhlas pergi. Ikhlas untuk kembali lagi.

Semestinya, dalam nulis juga kayak gitu. Ikhlas. Ga peduli pada penilaian baik. Ga peduli pada penilaian buruk. Terus aja nulis. Sebab dalam keterbiasaan kita mampu belajar banyak hal. Pembelajaran dan pengalaman agar tulisan dapat terus berkembang. Ga ada sejarahnya orang tekun dapat hasil yang sia-sia. Setidaknya, itu adalah upaya untuk memperbaiki apa yang pernah diusahakan. Ketekunan, pada akhirnya akan membawa kedamaian dan ketenangan di hati kita sendiri. Sebab, cepat merasa puas hanya akan membuat kita diam. Hingga akhirnya tak mencapai hakikat perubahan.

Nulis mah nulis saja. Seperti hujan. Ikhlas. Ga peduli pada penilaian baik. Ga peduli pada penilaian buruk. Terus aja nulis. Sampai suatu saat datang keindahan paling dinanti: pelangi. Saat ketika seseorang dengan senyum berkata, "Terima kasih atas tulisannya, sungguh menginspirasi." Atau di lain waktu membaca chat salah satu pembaca, "Terima kasih atas tulisannya, banyak makna yang dapat dipahami. Teruslah menulis."

Tak ada kebahagiaan paling besar selain penghargaan tulus tanpa kebohongan.

Menulislah untuk kebahagiaan dirimu sendiri. Jangan disimpan dalam draft doang atau dalam pikiran. Bukan untuk dipamerkan minimal untuk mengetahui berkembangnya pola pikir kita.


Cheers,
-GJG-

Jumat, 20 Maret 2015

KEPADAMU KASIH

Jangan terlalu lama bertanya tentang diri.
Jika akhirnya malah terpuruk dan mati.

"Tiada yang sempurna di dunia, namun semua dapat diupayakan menjadi lebih baik."

Maka begini saja.
Bermimpilah seperti apa yang ingin kamu impikan.
Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan.
Berbahagialah sekarang jangan menunggu kebahagiaan datang.
Tebarkan sedikit manis senyummu padaku maka akan terburai lebar senyumku membalas.
Bersikap ramah dan hangat kepada setiap yang dekat.
Tersenyum, tertawa, ceria, dan berbahagia atas keadaan apapun yang dirasa.

"Rencana Tuhan adalah kebaikan atau jalan menuju kebaikan."

Maka jangan rendahkan diri.
Jadikan iri sebagai motivasi perbaikan diri.
Tak ada diri yang lebih baik, selain dirimu sendiri.

Berbahagialah atas anugerah kehidupan yang Tuhan berikan.
Bersabar dan bersyukur adalah kawan terbaik untuk menjalani kehidupan.

Sabar adalah mengupayakan perbaikan.
Sementara syukur adalah menerima apapun keputusan akhir yang Tuhan berikan.

"Jadilah salju dalam gurun. Berani beku dalam terik. Berani putih dalam gersang. Aku percaya Valent bisa. Karena Valent, berbeda...."


Pengasihmu,

-GJG-

APA-APA TENTANGMU, IBU


"Pada rumah yang dulu tidak pernah memintaku untuk pulang, pernah ada punggung tangan wanita tua yang setia menunggu untuk aku cium."

Aku mengenalnya sebagai surga berjalan. Gurat ketegaran dan kelembutan terpancar dari wajahnya sekaligus. Tutur sapanya yang lembut setia membuatku terjaga dari tidur yang lelap saat pagi yang gigil begitu memaksa mata untuk tetap terpejam.
"Bangun, nak. Sudah jam 5. Misa pagi dulu, nanti pulang gereja diteruskan lagi tidurnya."
Aku ingat betapa banyak bulir peluh yang menetes di pelipis wajahnya. Saling berkejaran menjelma pelari marathon yang terengah mencapai garis tepi tujuan. Juga tentang seka air mata yang mengalir deras di pelupuk mataku.
"Bersabar, nak. Teruskan langkah. Pada akhirnya semesta hanya melihat usaha yang kita lakukan. Yang kemudian akan bahu membahu membantu untuk mewujudkan. Sungguh, pertolongan itu sangat dekat. Hanya ketika kita mau percaya dan mengimaninya."

Pada segalamu aku belajar banyak hal. Keteguhan, ketulusan, ketegaran, kesetiaan untuk percaya bahwa sabar dan syukur adalah sebaik-baiknya penerimaan. Aku telah jauh melangkah. Perlahan menyusuri jejak-jejak impian. Tertatih mengemas usaha untuk mewujudkan. Bersama lirih-lirih doa yang kau ajarkan.
"Doa adalah senjata orang beriman. Maka jangan angkuh dan pongah merasa bahwa segala dapat kauupayakan sendirian. Serahkan pada Tuhan yang menciptakan segala kekuasaan."
Di semestaku yang sekarang, aku telah banyak melupakan. Berjalan angkuh bak raja yang tak mengenal siapa yang menciptakan. Kokoh berusaha mewujudkan segala angan yang ada dalam benak. Pura-pura lupa untuk peduli pada segala masa lalu yang mengajarkan ketegaran dalam berpijak. Aku telah melupakanmu.

Sampai suatu ketika langit menamparku. Membuat tersadar bahwa selama ini aku terlalu jauh meninggalkanmu. Tepat di tanggal enam belas desember dua ribu empat belas, aku mendapati sebuah pesan singkat yang masuk ke telepon genggamku.
"Segera pulang. Ibu telah tiada."
Langit-langit di atas kepala seketika runtuh. Kaki yang selama ini tegar tak tergoyah seketika meruntuh pasrah. Berputar kenangan masa silam dimana engkau mengajariku berjalan. Lamat-lamat menatap lekat mataku seolah mengatakan,
"Ayo, nak. Engkau bisa."
Hari ini aku kembali mengenangmu. Tiga bulan lebih sudah kau terbujur di dalam lubang pengap pusara keabadian. Dan aku masih belum lupa segala ingatan tentangmu. Maafkan aku yang sepenuhnya ikhlas melepas kepergianmu. Biarkan segala penyesalan ini tetap ada, hanya agar aku bisa belajar bahwa tak ada cinta paling sejati selain cinta ibu kepada anaknya. Sehingga dapat membuatku terus berbuat baik hingga masa akhir pengembaraan kehidupan.

Selamat jalan ibu.
Tenanglah di sisiNya.
Berbahagia di dalam surga yang mengalir sungai di bawahNya.


Salam,
anak ketigamu.

Selasa, 17 Maret 2015

IBUKU SEORANG KULI KAPUR

Pernah, suatu petang Ibuku pulang dengan tangan berdarah,
“Papan tulis ada paku yang tercampur, Van. Sewaktu keasyikan menulis dengan kapur”, terang ibu sambil tersenyum.
Aku tersentak diam. Tanpa banyak kata, kuambilkan betadine untuk membersihkan lukanya. Sempat terusik batin dengan pertanyaan: “Tuhan, adakah ia letih?”

Ibuku bernama Sri Heri Agustiani. Sejak kecil aku biasa menyapanya dengan sebutan ibu. Tak masalah kalau si Valent menganggapnya itu panggilan yang ndeso. Karena 22 Desember adalah Hari Ibu bukan Hari Mama ataupun Hari Bunda. Sudahlah, tak banyak kata yang bisa menggambarkan betapa hebat sosok ibu di mataku. Begitu banyak cinta, kasih, sayang, juga ilmu kehidupan yang beliau berikan dan ajarkan kepadaku. Dalam suatu kesempatan ibu pernah berkata:
“Le Van, dengarkan ini baik-baik. Kasih sayang Tuhan terkadang datang menemui kita dengan topeng berbentuk rasa sakit, kesedihan, kecewa juga luka. Jangan takut! Tersenyumlah! Temui ia dengan dada yang lapang, kebesaran hati, kesabaran dan selaksa rasa syukur. Maka, lihatlah! Perlahan ia akan memelukmu dengan bentuk aslinya.” Entah, dari mana ibu mendapatkan kata sehebat itu, yang pasti kalimat itu kembali terngiang dalam hati, menguatkanku ketika aku memberi semangat ke Valent untuk menyapa Tuhan.
Suatu malam, aku terjaga. Aku menyaksikan ibu khusyuk membaca Alkitab usangnya. Sayup-sayup kudengar satu-satu nama kami disebut. Bulir bening perlahan jatuh seiring senandung doa yang ibu lafalkan. Ibu menangis menghamba, mengharapkan Tuhan menjaga dan membimbing kami hingga menjadi orang yang senantiasa membuat ibu tersenyum bangga karena pernah melahirkan kami.

Selepas kumandang subuh, ibu membangunkan aku, bapakku, dan si Owen yang kala itu masih menginap di rumah. Sepulang kami misa pagi di gereja, ibu menyiapkan kostum khususnya, seragam, buku bahan ajar, dan yang pasti tak lupa adalah nametag yang selalu disematkan diatas kantung dada. Melanjutkan aktifitasnya sebagai tenaga didik yang konon disebut sebagai pahlawan tanda jasa.


Ibuku adalah seorang kuli kapur. Menawarkan jasanya kepada para anak-anak yang siap untuk menuntut ilmu di daerah tempat tinggalku. Tak pernah kudengar ia mengeluh meski teramat penuh badannya dengan peluh. Keseharian ibu selalu terlibat dengan buku dan kapur (mungkin saat ini sudah spidol), pagi menulis di papan tulis, siang mnegawasi anak murid bahkan tak segan untuk menghukum yang bandel, dan malam adalah waktunya untuk bercengkerama dengan suami dan anaknya. Satu pertanyaanku kala itu, “Tuhan, kapankah ia terlelap?”

Ada satu kesempatan lain yang membuatku tak mungkin melupakan kejadian itu. Suatu ketika yang membuatmu ibu marah. Kala itu saat memandangi foto wisuda pasca-ku  terceplos dari bibirku mengatakan ke ibu “Ih, cerewet ibu nih. Semua dikomentari”, ucapku. Dengan sebal ibu meneteskan airmatanya kemudian terdengar isak tangisnya. Seketika aku diam, tersedak. Tak mampu melanjutkan percakapan. Aku pun meminta maaf.

Di waktu yang lain, dalam lemah rapuhnya, tak pernah sekalipun ibu menyesalkan keadaan yang dianugerahkan Tuhan, “Tak apa Le, ini bentuk kasih sayang Tuhan. Kenyataan bahwa kita masih mampu untuk tersenyum itu jauh lebih hebat dari sekedar kegetiran hidup yang kita rasakan.”, ucap ibu menguatkan. Aku tak tahu perihal apa yang membuat ibu menjadi sosok yang begitu tegar serupa karang juga begitu lembut seperti bulu angsa ketika ia memberi perhatian kepada kami, anak-anaknya. Pernah, suatu kali ibu bertanya khawatir tentang keadaan tetangga kepadaku, “Le, punya temen yang butuh tukang ga? Kasihan tuh Om Paulus Tukan, sudah ga kerja lagi.” Padahal aku tahu, ketika itu justru keadaan keluargaku-lah yang sebenarnya butuh perhatian dari orang lain. Hatiku bergetar. Satu pertanyaanku ketika itu : “Tuhan, adakah ia pernah berkesah?”

----------------


Kini, setelah begitu panjang perjalanan hidup yang ia susuri. Setelah begitu banyak rinai tangis dan butir doa yang ia panjatkan kepada keharibaan Tuhan. Tak akan aku bertanya lagi apakah ibu lelah. Karena aku yakin dan percaya. Dan aku teramat tahu: IBUKU TANGGUH!!!

PS:
“Bersyukurlah bagi kalian yang masih bisa memandang riang wajah malaikat tanpa sayapmu, sebab Tuhan masih percaya bahwa kalian akan mampu membuatnya menangis haru karena bahagia telah sempat melahirkanmu.”
“Bersyukurlah bagi kalian yang telah ditinggalkan malaikat tanpa sayapmu, sebab itulah cara terbaik dari Tuhan untuk memberi kebahagiaan abadi bagi ibumu. Surga yang mengalir sungai di bawahnya.”

Untukmu :

Segera!
Rengkuh.
Peluk.
Cium.
Tatap.
Dan katakan:
“AKU SAYANG IBU”


Salam,
anak ketigamu.

Sabtu, 14 Maret 2015

BERSERAH TAK SEKEDAR MENYERAH AKAN LELAH

“Sesekali, kau perlu menyerah pada kegagalan. Untuk sekadar menerima bahwa kau memang tak bisa. Lalu mencari jalan lain untuk menemukan kebahagiaan baru.”

Kita pernah mempertahankan sesuatu, —cinta, impian, pekerjaan, atau apa saja yang menurut kita adalah kebahagiaan— hingga menafikan luka, rasa sakit, kepedihan, dan kegetiran yang bertubi-tubi menghadang. Hanya karena begitu kukuh meyakini bahwa itu adalah kebahagiaan yang paling benar. Tak peduli lagi pada kebaikan diri sendiri. Wajah yang bercahaya saat melangkah kali pertama perlahan meredup, dipenuhi coreng moreng. Kebahagiaan yang kita kira akan tergapai dan terpeluk, justru menjauh. Tapi, bukannya berhenti, justru kita malah berusaha meyakini diri sendiri bahwa kebahagiaan itu mampu kita raih.

Kita pernah melupakan sesuatu, —wajah, suasana, jalan, dan segala hal baru di tempat yang lain— demi mempertahankan hal yang bukan menjadi milik kita. Merelakan diri sendiri untuk merasakan sakit dan luka tiada habisnya. Padahal, sesuatu yang bukan menjadi milik kita, sekeras apapun kita berusaha, tetap tak akan pernah menjadi milik kita. Sesuatu yang bukan diciptakan untuk kita, pada akhirnya akan tetap berlalu dan menghilang juga.

Andai aku menjadi Tuhan, maka kemarilah... Duduklah dengan sabar di sampingku. Akan kusampaikan sebuah rahasia besar. Tak semua orang dapat memahami ini dengan baik. Jadi, dengarlah dengan hati yang lapang:
“Akan selalu ada yang lebih baik, bahkan dari kebahagiaan yang kau kira paling benar. Kau hanya perlu membuka matamu lebih lebar lagi, memperluas langkah kakimu lebih jauh lagi, membesarkan hatimu sendiri untuk menyerah pada kegagalan, lalu menerima dengan tulus bahwa kau memang tak diciptakan untuk meraihnya. Kelak, akan datang hal terbaik yang benar-benar kau butuhkan, bukan sekadar keinginan yang kau angankan. Sesuatu yang dipersiapkan Tuhan untuk menjadi milikmu yang teristimewa; kebahagiaan yang sempurna.”


Cheers,
-GJG-

Kamis, 22 Januari 2015

RIP Ibu

16 Desember 2014.
Selamat jalan Ny. Sri Heri Agustiani.

Ibu mengajariku untuk berkelana.
Pergi sejauh-jauhnya dalam mencari makna.
Terbata mengeja setiap genap ganjil dunia.
Mengamati tingkah polah orang Yogyakarta yang kujumpa.
Tentang cerita luar biasa yang terdapat dalam keluarganya.
Tentang anak ketiga yang membelah senja melalui Jakarta menuju ibunya.
Tentang kepala keluarga ikhlas membelai pundaknya di ruang jenasah.
Tentang anak pertama yang saling mendekap lalu merentangkan pelukan.
Tentang anak kedua yang pergi dan akan kembali juga.
Hingga enam belas desember-mu yang tak aku lupa:
KEHILANGAN TANPA SALAM PERPISAHAN!!!

Ibu mengajariku untuk selalu ramah bersalaman.
Seperih pedih apapun luka, pada akhirnya akan menjadi masa lalu juga.
Seperti sebuah kisah menarik yang kutemui dari seorang guru tua pembasuh mental.
Tentang senyumnya yang tetap sumringah, meski kakinya berdarah-darah.
"Demi anak-cucu, semua tak ada apa-apanya," katanya.
Ibu beserta enam belas desembernya memaksaku untuk pulang.
Sejauh-jauh kaki melangkah, tempat terakhir untuk kembali adalah rumah.
Hanya merebahkan kepala untuk menceritakan kisah-kisah hebat yang sudah kudapatkan. Lalu kuantar ke makam bersama anak-cucumu dan ayahku dalam satu kendaraan. Menikmati sisa usia dengan kedewasaan pikir dan kerendahan hati.
Menjadi seorang sederhana yang mengenal siapa dirinya.


Salam,
Anak ketigamu.

Kamis, 15 Januari 2015

DIA DIAM BELUM TENTU MARAH

*Ibukota, awal dua tahun yang lalu*
———————————————
Sore itu, gw dan cewek gw berencana menonton film The Last Stand. Sebenernya sih gw males, mending tidur di rumah. Tapi karna cewek gw bawel banget ngajak nonton film itu, yaudah gw terpaksa menurutinya. Sesampainya di lokasi, bioskop penuh. Gw sama sekali ga mengira bioskop saat itu akan dipenuhi bapak-bapak kumisan dan om-om jenggotan yang rela antri panjang hanya untuk nonton Arnold Schwarzenegger.

Ngeliat bioskop yang seperti posyandu di kala ada event imunisasi, napsu nonton gw hilang. Ga kebayang, dengan antrian sepanjang itu, perlu berapa puluh tahun untuk bisa dapet tiket The Last Stand. Tapi cewek gw ga mau mengerti. Dia terus merengek, meminta gw untuk ikutan antri. "Udah ayok buruan antri sebelum kehabisan" kata cewek gw sambil narik lengan gw.

Gw pasrah. Sambil berdoa dalam hati semoga tiketnya cepet habis biar gw gak terlalu lama antri. Beberapa menit kemudian. Orang-orang di depan gw mulai keluar dari barisan. Muka mereka menggambarkan kekecewaan. Ternyata doa gw terkabul. Baru 5 menit gue antri, tiketnya udah habis. Puji Tuhan...

Cewek gw cemberut. Ada kekecewaan yang begitu dalam yang gw lihat di matanya. Di saat-saat seperti itu, gw harus mencoba menghibur dia.

"Uda gapapa, besok kita ke sini lagi."
"Tapi aku maunya sekarang. Besok belum tentu kamu ada waktu buat aku. Kamu kan gitu, sok sibuk!"
"Ya terus mau gimana lagi? Kan tiketnya habis."
"Yaudah deh, kita pulang aja!" Setelah itu, dia yang biasanya bawel, mendadak jadi pendiem.

Karena dia minta pulang, yaudah, gw ikutin kemauannya. Daripada marahnya makin menjadi-jadi. Beberapa saat kemudian, gw dan cewek gw sampai di parkiran. Dia masih diam seribu bahasa. Gw ajak ngobrol, jawabnya cuma "ya" "hmm" dan "gak". Mungkin dia ngambek. Tapi gw bisa apa. Gw aja ga tau salah gw di mana. Kalo gw tau, pasti gw minta maaf.

Tempat parkiran sama seperti bioskop, penuh. Gw agak susah ngeluarin motor karena dipepet dua motor di kiri kanan depan belakang. Cewek gw juga gak bantuin samasekali. Dia cuma diem sambil mencet-mencetin henponnya. Mungkin dia lagi update status "SEMUA COWOK SAMA AJA! KZL!"

Langit mulai mendung, dan petir beberapa kali bersautan. Setelah berhasil ngeluarin motor, gw segera tancap gas karena panik takut kehujanan di jalan. Selama di perjalanan, cewek gw masih diem aja. Sesekali gw coba ngajak dia ngobrol, tapi dia ga jawab sama sekali. Emang deh ya, cewek kalo ngambek suka nyusahin.

Tapi gw mulai merasa ada sesuatu yang aneh. Ga biasanya cewek gw semarah itu cuma karna hal sepele. Lalu saat gw nengok ke belakang, cewek gw ga ada. Dia ketinggalan di parkiran. Sial. Gw bener-bener ga tau kalo dia belum naik. Akhirnya gw cepet-cepet puter balik dan segera menjemput cewek gw yang masih ada di parkiran. Gw kira dia akan marah karna gw tinggalin, tapi ternyata dia malah ketawa-ketawa. :(

Pesan moral: cewek itu kalo diem aja bukan berarti marah. Coba diajak ngobrol terus. Siapa tau dia lagi kesurupan, atau sama seperti apa yang gw alamin, ketinggalan di parkiran.


Cheers,
-GJG-

Minggu, 09 November 2014

GUGURNYA CINTA BUKANLAH NYERAH

(RIP) Meggy Z berpesan:
Lebih baik kau bunuh aku dengan pedangmu,
daripada kau bunuh aku dengan cintamu.

Ada yang menyangka itu nyerah, tapi menurut aku itu pasrah. Padahal nyerah dan pasrah itu beda. Hhh... Pasrah ga ada benderanya, nyerah sudah jelas: bendera putih (acara uji nyali dan sejenisnya). Kematian bukan menyerah karena benderanya belum tentu putih. Kuning? Ah itu tanda kematian di Jkt. Di Yk bendera untuk kematian warnanya putih. Di tempat lain ya lain lagi. Berarti kematian bukan menyerah. Kematian itu pasrah. Semua oran berjuang untuk hidup (dan untuk cinta) sampai dia ga mampu lagi untuk melanjutkannya, wuanjeeeeng... dan yang menilai kapan kita tak mampu melanjutkan hidup bukan kita. Saat kita menyerah, kitalah yang menentukan saatnya. Hhh...
Daun yang gugur aja ada siklusnya untuk bersemi kembali, apalagi cinta! Bacanya gausah serius nanti keriput.
Kenapa habis putus cinta jadi gelap, jadi nyerah, dan mau bunuh diri? Karena orang-orang seperti itu... ini mungkin lho ya, sekali lagi ini mungkin, mungkin karena orang-orang seperti itu kurang ngobrol sama sejarawan, sama arkeolog, bahkan sama paleontolog. Enaknya kalau putus cinta terus kita ngobrol sama orang-orang yang ahli masa lampau, kita akan tahu bahwa putusnya cinta kita ga ada apa-apanya dibanding tragedi manusia sejak ribuan tahun yang lalu.
FYI aja sih: Kisah cinta Roro Mendut dan Pronocitro yang dipisahkan oleh penguasa Tumenggung Wiroguno jauh lebih sadis, le. Ada juga Minakjingga yang hancur berkeping-keping hatinya karena Kencanawungu lebih memilih Damarwulan sampai wujudnya berubah jadi penuh cacat karena digempur oleh Damarwulan. Belum lagi kisah tragedi Cleopatra dari Mesir, belum lagi Helen dari Sparta. Dan seabrek hal-hal sadis tentang cinta lainnya di masa lampau.
Hmm... atau sehabis putus cinta kalian ogah ngomong sama orang-orang ahli masa lampau? Ya kalo ga cobain aja ngomong sama ahli astronomi, ga usah sampai Stephen Hawking. Di Indonesia banyak astronom maupun orang-orang yang sekedar hobi astronomi. Berkawanlah sama mereka. Bincang-bincanglah, mau sambil nyeruput kopi ataupun ga, terserah. Ah, kisah putus cintamu ga ada apa-apanya... seperjuta upil dibanding luasnya alam semesta. Bagaimana ga luas, wong planet seperti bumi aja konon ada hampir dua triliun di galaksi Bimasakti saja. Jika semua dihuni oleh manusia, berarti persoalan kehancuran cintamu itu dialami juga oleh penghuni triliunan planet.

Kata budayawan Butet Kartaredjasa, suka duka kita tidaklah istimewa karena setiap orang mengalaminya. Ada yang nanyain ke aku. "Jo lu pernah ngerasain putus ga sih? Terus apa yang lu lakuin?" Hhh.... Itu sama aja dengan bertanya, "Jo lu pernah makan nasi pecel?" Tentu langsung aku jawab pernah. Pertama kali putus cinta, aku lalu disuruh bapakku berdiri lama memandang laut, lama banget di pantai Pulau Bunyu. Agar kenapa? Agar aku merasa persoalanku begitu kecilnya.

Oh ya kenapa hidup ini kusamakan dengan nasi pecel, eh, game. Ada yang nyangkal waktu kami diskusi hangat, kenapa hidup kok disamakan dengan game, padahal hidup kan serius, sedangkan game sekedar permainan. Buseeet serius amat kayak lagi ujian?


Oke..oke... tapi coba pikir deh. kurang serius gimana game itu? Apa kalian nyangka yang serius cuma paskibraka yang bisa jalan mundur tanpa jatuh di tangga istana? Apa yang kalian anggap serius itu cuma komandan upacara, yang suaranya bisa lebih lantang dari orang utan. Hidup itu game dan game itu kalau diseriusin bakal seru.

Coba pikir deh, banyak orang yang  sampai lupa makan, lupa minum, lupa pacarnya karena main Point Blank, Lost Saga, Angry Birds, dan Nusantara Online. Jangan cuma terpesona sama Suju maupun SNSD doang. Pendapatan Korea besar juga dari bisnis game. Karena apa? Karena kita semua suntuk, sangat tekun, dan sangat all out mengahdapi game. Justru yang kita anggap bukan game malah kita perlakukan dengan tidur. Contohnya bapak-bapak di DPR itu. Sidang kabinet, bahkan pidato (mantan) Presiden SBY yang panjang lebar dan seharusnya serius, malah ditinggal tidur oleh anak-anak. Please jangan melihat segala sesuatunya dari permukaan. Salah aku mengatakan game itu serius? Para ilmuwan bilang manusia itu homo ludens, artinya makhluk yang bermain.
Sekarang aku mikir kenapa istilahnya "Lo gue end", kok ga "lo gue game over"? Why not?
"Kalo game over bisa di restart, Jo." celetuk si Petra.
Hhh...
Ganesha si anak game ikut nambahin. "Biar ga antiklimaks. Kalau game over ga ada credit title-nya, Jo."
Aku setuju, asal di dalam credit title itu bukan tercantum nama-nama orang ketiga yang menyebabkan kita putus. Biarlah orang-orang itu, kalaupun ada, hanya dicatat oleh alam. Credit title diganti dengan catatan akhir film tentang bagaimana kita pacaran, bukan tentang bagaimana kita putus. Seperti seorang samurai (Tom Cruise) dalam film The Last Samurai ketika ketika ditanya oleh Kaisar Jepang tentang matinya samurai lain () di dalam perang, "Maaf, Kaisar. Izinkanlah saya tidak menceritakan tentang bagaimana dia mati, tapi tentang bagaimana dia hidup."


Ditulis dikamar, dibaca dimana-mana.
Salam,
-GJG-

Senin, 03 November 2014

DARE TO CARE

DareToCare bermula dari perbincangan melalui selular antara saya dengan Guruh Triadiyoga tanggal 22 Maret 2014. Guruh yang pemalas tapi selalu bijak merupakan kawan sekaligus komandan angkatan saya. Obrolan kami mengenai ajakan tentang keberanian untuk amal. Langsung saja saya membuat grup WhatsApp, karena membuat grup band sudah ga jaman.

Pamflet publikasi DareToCare.

Pamflet tersebut dibagikan menurut keyakinan Guruh yang lebih tahu siapa saja yang merasa siap dan dalam kondisi sehat secara ekonomi, karena tujuan ini amal dan bersifat segera. Maka ga ada rencana panjang dan tanpa AD/ART. Bergabunglah 12 donatur (tks kawan-kawan). Kemudian grup WhatsApp dijadikan wadah untuk discuss mengenai program amal terkait modal dan pembagian dengan asas kemuliaan.

Discuss #1.

Discuss #2.

Discuss #3.


Ya seperti itulah rapat mengenai konsep DareToCare, tenang tanpa harus hingar bingar di ekspose media, tanpa perlu acara charity megah di hotel mewah. Dari media WhatsApp, saling silahturahmi menjenguk saudara kami. Pada 26 Maret 2014, bergerak cepat kami membahas untuk membentuk tim kurir inti DareToCare, mereka diajak karena kredibiltasnya di aksi-aksi kemanusiaan sebelumnya.


Tim kurir Galih dan Guruh. Melalui Syamsi, kami pun bersilahturahmi dan merasa ada panggilan untuk membantu. Tks Syam!

Donatur DareToCare pun bertambah menjadi 16 orang dan bulan berikutnya saldo juga ikut bertambah, Puji Tuhan. DareToCare ga punya kantor, bergerak dari WhatsApp, koordinasi kapan saja. Kami adalah kumpulan amal yang mengudara tanpa rumit, sulit, dan berbelit-belit.


COMING SOON

Selanjutnya pada akhir Oktober kemarin Pepi menanyakan lanjutan tentang grup ini. Karena Syamsi sudah mendapatkan pekerjaan yang layak. Maka 1 bulan terakhir DareToCare vakum. Aku membuat kegaduhan bahwa memiliki konsep, bak gayung bersambut, maka Guruh langsung menanyakan apa konsepmu! Ya namanya juga konsep ibarat wacana, saya belum siap untuk menyampaikannya dengan berdalih masih proses pematangan konsep supaya tidak mudah disanggah mentah-mentah oleh para donatur.

Hingga saat ini pun belum aku sampaikan konsep itu. Tetapi dengan itu bukan berarti aku santai leyeh-leyeh, empat hari ini yang aku pikirkan hanya bagaimana mengutarakan konsep amal selanjutnya untuk DareToCare ini. Ketika bangun tidur aku langsung memikirkan konsep ini, sepanjang hari aku hanya mengerahkan segala daya-upayaku untuk DareToCare ini supaya tetap berlanjut, hingga ketika kembali tidur lagi aku masih memikirkan konsep, bahkan ketika tidur pun aku bermimpi bagaimana cara mulai mengutarakan konsep DareToCare. Mungkin kedengerannya lebay, tapi kawanku Guruh pasti sangat tahu, aku sudah terbiasa melakukan hal "gila" karena sering menjadi relawan ketika membantunya selama menjabat menjadi Komting 2007.

Apa yang ada di pikiranku saat ini? Hanyalah untuk meneruskan DareToCare, ayolah transfer-transfer sedekah lagi, semua bergerak membantu sesama, berapapun nominalnya. Aku bersyukur Syamsi tetap kuat hingga rejeki menghampirinya. Begitu juga adiknya (RIP) Zaenal, yang tetap melanjutkan kuliahnya di Teknik Lingkungan UPN. Mereka berdualah sosok yang dikirimkan oleh Tuhan untuk mengetuk hati kita. Selanjutnya?? Teruslah kita bertahan bergerak bersama melalui DareToCare untuk bareng-bareng mencari tiket ke surga, itu saja!

Sejak aku mampir ke salah satu panti asuhan di Selatan Selokan Mataram, Kota Yk, respon dari dalam nurani sungguh luar biasa! Bagaimana tidak, maka akan aku ceritakan sedikit kisahku.
Sebegitu tiba di panti asuh, aku ngobrol sebentar dengan ibu pengelola panti, sampai akhirnya aku ngelihat siapa yang ada dibalik lemari itu. Ibu pengelola panti itu langsung memperkenalkan ke aku.
Ini mas, perkenalkan namanya Lana. Dia paling pintar disini, sekolahnya juga pintar, sudah lulus SMA, bisa komputer, bisa pakai jilbab sendiri, Mbak Lana nih yang bantu kami mengelola yayasan ini. Lanjut ibu panti.
Aku memandang Lana, mungkin tadi bukan prestasi yang luar biasa sampai aku kemudian melihat sosoknya... gadis cantik, manis, berkulit putih, berambut panjang, dengan senyum yang mengembang... dan dia ga punya tangan. Aku bengong, takjub dengan sosok di depanku, anak ini luar biasa, dengan senyum dan tatapannya orang tidak akan menemukan kekurangan di dirinya.
Lana bercerita:
  1. Aku dulu seperti mereka (bayi-bayi) mas, mereka semua sempurna, aku cacat sejak lahir dan tinggal di panti ini.
  2. Sekarang ada 30 bayi yang dikumpulkan di panti daerah Kadirojo, Kalasan. Semua nasibnya sama dengan aku sejak kecil ga tau deh orangtua kami siapa.
  3. Oh ya, aku sekolah di sekolah biasa mas, aku ga mau dikasihani, SMP-SMA di Muhammadiyah biasa, aku ga minta meja khusus. Ku tulis semua dengan kakiku, bisa kok. Pikirku anak ini istimewa, seperti Yogyakarta. Semangatnya luar biasa.
  4. Bayi-bayi cacat ini lahir karena gagal aborsi, bapak-ibunya ga ngeharapin kehadirannya, segala macam cara dilakukan, namun ketika Tuhan Sang Pemilik Hidup berkata lain, tetap lahirlah mereka walau dalam kondisi cacat akibat ulah orangtuanya sendiri.
  5. Ini namanya Risti mas, Risti bayi yang ga punya lubang dubur 6 bulan lalu masih disini, dibuatkan lubang diperutnya. Coba deh pegang tangannya mas, dia pasti mau merangkak-rangkak keluar dari boks yang menghalanginya.
  6. Siapa lagi mas yang mau merawat mereka? Kami disini bertekad menjaga mereka. ini amanah dari Tuhan. Mereka tetap manusia walau cacat diseluruh tubuhnya.
  7. Aku tiap hari disini mas, bantu ibu-ibu pengelola yayasan ini. Aku bisa lakukan semuanya kok, ngetik, internet, pakai hp aku bisa semua pakai kakiku. Tuhan itu Maha Adil mas, di setiap kekurangan yang dimiliki manusia, pasti ada kelebihannya. Astaaaagggggga, Lana ini luar biasa, malu aku jika kalah dengan semangatnya.
  8. Jatah biaya makandari pemerintah hanya Rp 2.500,- per anak per hari mas. Bayangkan mas, dengan makanan burung saja mahal makanan burung. 
Lana, aku tiba-tiba melihat dia begitu sempurna... seperti ada tanga yang tumbuh keluar dari hatinya... tangan yang indah yang bisa memeluk bayi-bayi malang di dalam sana... seperti sayap yang dimiliki ibu yang mengasihi anak-anaknya. Malu aku jika melihat semangatnya! Tanganku kalah tangkas dengan semangat yang keluar dari tubuh ga bertangan itu.
Saat ini ada 19 bayi normal dan 30 bayi cacat di panti asuhan yang aku lupa nama pantinya. Mereka berjuang dengan bantuan pemerintah yang tidak seberapa (2.500/hari/anak) dan dari donatur! Saat ini hanya ada 2 donatur tetap disini, selebihnya adalah donatur tidak tetap yang datang silih berganti, ga bisa dijagakan setiap hari.
Sekian ya.
Setelah saya renungkan, saya memberanikan diri untuk menulis ini. Bahkan lagi menggodong supaya kisah ini bisa dijadikan materi konsep untuk lanjutan DareToCare. Mari kita bantu, niscaya Surga untukmu!

Tubuh mungil itu seperti Tuhan yang menghadirkan untuk "mancing" kita.
Seberapa pantas sih kita masuk surga, kalau kita masih nyaman makan di McD, KFC, PizzaHut, Hoka Bento, Starbuck, habis ratusan ribu sekali kecap! Sementara kita hanya berdiam diri melihat tubuh-tubuh mungil itu dapat jatah makan dari pemerintah tidak lebih dari makanan burung.

Aku mengajak rekan-rekan donatur DareToCare untuk meneruskan kegiatan amal ini, amal jalanan, tanpa sangkutan angkatan, gap, bahkan parpol apapun! Backing kita cuma satu, GUSTI ALLAH, dengan inspirator sedekah modern seperti Ust. Yusuf Mansur. Aku sudah mengerucutkan siapa saja yang bisa menjadi sasaran penerima, berdasarkan prioritas, yaitu:
1. Panti asuhan anak cacat,
2. Panti asuhan bayi terlantar,
3. Panti asuhan yatim piatu,
4. Janda-janda tua dhuafa,
5. Anak-anak dewasa/orangtua sakit dan tidak mampu,
6. Biaya sekolah anak yatim dan dhuafa,
7. Tempat ibadah yang sedang dibangun,
8. Kebutuhan alat ibadah.

Maaf kalau aku rada menggurui, begitulah aku yang bingung menyampaikan konsep ini. Idealnya adalah konsep ini:
Tentang obat yang belum terbeli,
beras dan lauk yang belum terbayar.
Tentang susu dan makanan bayi yang habis esok hari,
juga biaya sekolah yang masih tertunda.
Tentang bangunan panti, serta tempat tinggal bersama yang harus ditambah luasnya.
DareToCare menyampaikan titipan dari langit, tanpa perlu rumit, sulit, dan berbelit-belit.

Nantinya, lokasi target bisa di Yk, Jkt, Kalimantan, atau di lokasi tempat para donatur berkarier. Kita semua donatur, kita kurirnya, demi Tuhan akan sampai ke mereka yang membutuhkan. Pembagian seperti sistem kita kemarin melalui discuss dan asas kemuliaan. 

Semoga kita yang merupakan rakyat jelata dan ga kenal tokoh politik manapun mampu  membentuk amal jalanan untuk tabungan kelak di kuburan kita semua. Semoga kita bisa sebagai penyalur bagi para saudara/kawan donatur lain yang tergerak untuk membantu tapi ga punya kesempatan melakukannya sendiri. Semoga kita bisa di-support oleh satu pihak, Gusti Allah, selesai semua urusan!


Salam,
-GJG-

Jumat, 31 Oktober 2014

ESENSI

Jika keterbatasan fisik membatasi langkah merealisasikan mimpi, maka menyalahkan Tuhan karenanya bisa dibilang keterbatasan pikiran?

Tentu saja pikiran manusia berbatas. Memang siapa yang bisa menakar Tuhan?

Melawan keterbatasan dan selalu bermain dengan kemungkinan kecil itu sama seperti berenang melawan arus. Melelahkan.

Kepada dunia, mencoba membuktikan diri. Selang beberapa saat, kamu menemukan dirimu di pojok ruangan meratap pedih tentang nasib.

Pada akhirnya semua akan berdamai dengan keterbatasannya masing-masing. Bukan menyerah.

Tak perlu menyerang orang lain jika perang yang sebenarnya adalah melawan diri sendiri.

Bener kata Nietzsche, ada orang yang ga mau percaya kenyataan kalau dia terbatas, karena takut ilusinya rusak.


Cheers,
-GJG-

Sabtu, 20 September 2014

OH ADEK PEREMPUAN

Dulu sewaktu masih kecil, gw pernah jadi anak pertama dan satu-satunya. Masa kecil gw begitu bahagia. Setiap hari cuma main, main, dan main. Bisa dibilang waktu itu gw lebih suka hidup di luar rumah ketimbang di dalam rumah. Di rumah, gw memang punya banyak mainan. Orangtua gw juga selalu ada waktu buat gw. Tapi semua itu ga seperti ketika gw main di luar rumah. Main sama orangtua ga seseru seperti ketika gw main dengan anak seumuran gw. Gw pengen punya temen main di rumah. Cara satu-satunya adalah, gw harus punya adek. Bagaimanapun caranya, gw harus bisa memaksa nyokap buat bikinin gw adek.

"Mah, bikinin adek dong." kata gw ke nyokap yang lagi sibuk bikin brownies di dapur. Denger ucapan gw itu, nyokap langsung menatap gw dengan heran. Tanpa berkata apa-apa, dia lanjut ngaduk adonan. Gw mulai ngeluarin jurus yang paling sering dipakai anak kecil sebagai senjata mengintimidasi orangtuanya. Merengek. "Maaaaaah... Adeeeeek.." Sambil narik-narik bagian bawah baju nyokap, gw terus merengek. Sampai akhirnya nyokap gw nyerah. "Iya, nanti mama bikinin ya.."
Gw berhasil.

Karena khawatir ucapan nyokap cuma sekedar wacana, gw terus mendesak nyokap "Kapan bikinnya? Besok ya. Pokoknya besok aku uda harus punya adek!" Nyokap gw diem. Sambil terus merengek, gw nanya ke nyokap "Emang bikin adek gimana sih? ajarin deh. Ntar aku bikin sendiri." Kemudian gw lihat muka nyokap gw mulai pucet.

Capek denger rengekan gw, nyokap akhirnya menjawab sebisanya. "Bikinnya kayak gini nih!" jawab nyokap gw sambil memasukan adonan kue brownies ke dalam oven. "Oh gitu ya.." Dan gw pun percaya.

Singkat cerita, beberapa tahun kemudian, adek gw terlahir ke dunia yang fana ini. Namanya Rhencyta. Biasa dipanggil Rensi. Setelah Rensi lahir, anggapan gw tentang punya adek itu seru ternyata salah. Punya adek itu susah. Kasih sayang orangtua gw mulai terbagi. Waktu bermain gw juga semakin berkurang. Saat nyokap sibuk masak, gw jadi gak bisa main karena harus jagain Rensi. Gendong dia sampe dia tidur. Bikinin dia susu ketika dia rewel. Nyuci piring ketika nyokap gw capek ngurusin Rensi. Dari situ, secara ga langsung gw mulai belajar tentang tanggung jawab menjadi seorang kakak.

Seiring berjalannya waktu, Rensi mulai dewasa. Tugas gw buat ngurusin dia juga udah berkurang. Dan sekarang dia sedang memasuki fase hidup baru. Dari sel telur-bayi-balita-anak kecil-ABG-alay. Bahkan sekarang ini jiwa alay Rensi sedang meletup-letup dalam dirinya. Saking alaynya, setiap BBM-an sama dia, gw berasa baca tulisan-tulisan purba yang biasa diabadikan di sebuah prasasti. Belum lagi ketawanya yang menyimpang dari ajaran agama ~w̶̲̥̅̊ΠΊ̲̣̣̥"=))w̶̲̥̅̊ΠΊ̲̣̣̥"=Dw̶̲̥̅̊ΠΊ̲̣̣̥"=))w̶̲̥̅̊ΠΊ̲̣̣̥~

Makin kesini gw makin sadar kalau ternyata walaupun alay, Rensi terlahir dengan wujud yang cantik. Dan itulah masalah utamanya. Punya adek itu susah. Apalagi adek cewek. Cantik pula. Di luar sana pasti banyak spesies cowok yang kalo ngeliat cewek bening, otaknya langsung kotor. Gw harus menjaga Rensi dari mereka.

Setiap Rensi keluar rumah, ada perasaan ga tenang yang gw rasakan. Karena gw juga dulu pernah jadi anak seumuran Rensi. Yang pengen mencoba banyak hal, tanpa mikir apa akibatnya. Jagain Rensi kecil, jauh lebih gampang ketimbang jagain Rensi yang sekarang uda dewasa. Apalagi anak seumuran Rensi masih punya pikiran yang labil. Masih gampang terpengaruh orang lain.

Sebenarnya gw bukan tipe orang yang insecure. Bahkan ketika pacaran gw sering diputusin dengan alasan "Kamu terlalu cuek sama aku". Gw juga pernah berusaha mengubah sifat cuek gw. Menjadi seorang cowok yang perhatian sama ceweknya. Tapi kemudian gw diputusin dengan alasan "Kamu terlalu posesif sama aku".

Demi keselamatan Rensi, gw akan berusaha semaksimal mungkin buat ngelindungin dia. Gw harus tau siapa aja orang-orang disekitar Rensi. Terutama temen-temennya.

Akhirnya suatu ketika, saat Rensi ketiduran di ruang tamu, diem-diem gw meriksa handphone-nya.  Gw baca semua SMS, WhatsApp, Line, bahkan iMess Rensi. Seperti seorang spionase Rusia yang mencari data-data konspirasi rahasia pemerintah Amerika Serikat, gw membaca dengan teliti semua pesan yang ada di handphone Rensi. Hasilnya, gw speechless. Dari hasil penyadapan gw terhadap handphone Rensi, gw menarik kesimpulan kalau saat ini Rensi ada dalam bahaya.

Di handphone-nya banyak gw temukan pesan-pesan aneh dari banyak cowok. Ada satu yang paling aneh. SMS dari nomer yang ga diketahui. Isinya cuma "hay" "pgie" "siank" "sore" "gy apz nih?" "Mlem" "met bobok". Isi SMS-nya semacam pesan dari alien kepada manusia bumi. Pesan berupa kode SOS dalam rangka memberi tanda bahwa di planet lain ada kehidupan. Tapi gw bersyukur Rensi ga bales semua SMS itu.

Rensi ga pernah bales semua pesan dan chat yang ga jelas. Itu cukup bikin gw lega. Saat gw lagi baca-baca WhatsApp Rensi, ada chat masuk. Dari seseorang bernama Petra. Isinya.. "adek, kamu lagi apa? Ga kangen sama kakak? xixixixi"

What the fuck! Sejak kapan Rensi punya kakak lagi selain gw?

Dengan rasa penasaran yang bercampur dengan rasa kesel, gw langsung bales.. "Gw kakaknya Rensi. Lu kakaknya juga? Kapan lahirnya, kok gw ga tau? Kita lahir barengan? Tapi seinget gw, dulu gw ada di perut nyokap. Lo di mana? Di lambung?"

Gak dibales.

Beberapa menit kemudian. Ada lagi Line masuk. Dari seseorang bernama Iwan. "Hy Rensi. Lg apa?" Tanpa pikir panjang, gw langsung bales "Lg cebok nih. bentar ya.." Gw pikir setelah gw Line kayak gitu, dia bakal ilfeel sama Rensi. Dan ga ngehubungin Rensi lagi. Ternyata dia langsung bales lagi. "Walaupun qm gk cinta ma aq, tp aq akan ttp selalu mencintaimu".

Makin ga paham dengan sepak terjang anak muda jaman sekarang.

Puncak kekhawatiran gw terjadi beberapa hari selanjutnya. Minggu sore, rumah gw kedatangan seorang tamu. Kebetulan gw sendiri yang membuka pintu buat tamu itu. Saat gw buka pintu, seorang lelaki berkumis tipis, rambut belah pinggir, dan berkacamata tebal, tersenyum di hadapan gw. "Hehehe. Rensi-nya ada?"

Pertama kali ngeliat orang itu, gw langsung mikir, mungkin dia guru atau kepala sekolahnya Rensi. Tapi bentuknya sama sekali ga mencerminkan sosok seorang guru atau kepala sekolah. "Ada perlu apa ya?". Sambil senyum-senyum mengerikan, lelaki itu menjawab "Saya temen sekolahnya Rensi. Saya ke sini karena ada janji sama Rensi buat belajar bareng"

Gw sempet diem beberapa saat ketika tau kalau ternyata lelaki bertampang bapak-bapak itu temen sekolah Rensi. Kalau benar dia temen sekolah Rensi, gw rasa dia uda ga naik kelas 20 tahun. Gw dilema. Bingung antara mau mengusir dia baik-baik, atau mengutuk dia jadi tembikar. Belum sempat gw usir, Rensi uda keburu nongol duluan. Dia langsung nyuruh ABG kumisan itu masuk. Gw ga bisa berbuat apa-apa. Mau gw seret keluar, ga enak sama tetangga.

Rensi dan ABG kumisan itu belajar di ruang tamu. Gw masih penasaran, siapa sebenernya temennya itu. Karena ini pertama kalinya ada cowok dateng ke rumah buat ketemu Rensi. Mudah-mudahan ABG kumisan itu bukan cowok Rensi. Gw masih belum rela adek gw pacaran. Apalagi sama yang bentuknya agak abstrak kayak gitu.

Gw harus merancang strategi untuk mendengar semua obrolan mereka. Lalu muncullah ide aneh di kepala gw. Ngepel. Iya, kalau gw ngepel di ruang tamu, gw akan bisa mendengar semua obrolan mereka. Walaupun sebelumnya gw ga pernah ngepel, tapi semua akan gw lakukan demi keselamatan Rensi.

Setelah meracik air pel ke dalam ember, gw bergegas menuju ruang tamu. Alat pel gw celupkan ke dalam ember, dengan gerakan asal-asalan, gw mulai ngepel seleruh lantai yang ada di ruang tamu. Rensi menatap gw dengan pandangan yang seakan berkata "astaga, ngapain lagi sih nih orang.." tapi gw cuek. Gw terus ngepel sambil nguping obrolan mereka.

Yang mereka obrolin ternyata memang cuma masalah pelajaran aja. Tapi gw ga mau ketipu. Bisa jadi, setelah gw pergi, obrolan mereka jadi berubah arah. Gw harus memantau mereka. Kemudian keanehan mulai terjadi.

Lantai ruang tamu yang gw pel terlihat aneh. Banyak busa di mana-mana. Ruang tamu gw dihiasi dengan busa dan genangan air. Gw mulai panik sekaligus heran. Kayaknya ada yang salah. Gw sering ngeliat nyokap ngepel di rumah, tapi lantainya ga becek dan berbusa.

"Ya ampuuun, Joooiiiin! Lantainya kamu apain?" Suara nyokap gw menggelegar ketika melihat lantai di ruang tamu becek dan berbusa.

Setelah diusut tuntas, ternyata penyebab terjadinya semua itu adalah karena kesalahan gw ketika memilih sabun. Sabun yang gw pake bukan sabun buat ngepel, tapi sabun buat nyuci piring. Selain itu, takaran sabun yang gw campur ke dalam air terlalu banyak. Itu yang membuat lantainya berbusa. Kesalahan kedua, saat ngepel, harusnya kain pelnya gw peras dulu. Tapi itu ga gw lakukan. Itu lah kenapa lantainya jadi becek.

Karena lantainya becek, akhirnya ABG kumisan itu pulang. Dan Rensi ngambek sama gw.

Setelah kejadian itu, ga ada lagi cowok yang dateng ke rumah gw buat ketemu Rensi. Tapi lama-lama gw jadi mikir, sepertinya kekhawatiran gw terlalu berlebihan. Lagi pula, gw ga mungkin bisa setiap saat dan setiap waktu ada di dekat dia. Cara yang seharusnya gw pakai adalah membentuk pola pikirnya. Supaya dia bisa melindungi dirinya sendiri dengan cara bisa membedakan mana yang baik dan mana yang ga baik.

Sebagai kakak, gw cuma berharap Rensi ga terjebak ke pergaulan yang salah. Karena gw pernah jadi anak seumuran dia. Gw tau betul segala bentuk pergaulan anak jaman sekarang. Maka dari itu, gw wajib melindungi Rensi dari pergaulan yang salah, dari orang yang salah, dan dari jalan hidup yang salah.
FIKTIFTAPIMENGHIBUR!


Cheers,
-GJG-